Melupakan seseorang yang pernah dekat atau dicintai tidak selalu bisa dilakukan dalam waktu singkat. Rasa rindu, sedih, atau keinginan untuk kembali mengingat masa lalu dapat muncul meskipun hubungan sudah berakhir. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi keterikatan emosional dan perlahan mengembalikan fokus pada kehidupan sendiri. Berikut cara melupakan seseorang menurut psikolog yang dapat dicoba.
Cara Melupakan Seseorang Menurut Psikolog
1. Terima Perasaan yang Sedang Dirasakan
Sedih, kecewa, marah, atau masih merindukan seseorang setelah hubungan berakhir merupakan hal yang wajar. Tidak perlu memaksa diri untuk langsung baik-baik saja atau menganggap perasaan tersebut harus segera hilang.
Cobalah mengakui apa yang sedang dirasakan tanpa menghakimi diri sendiri. Menerima perasaan bukan berarti terus larut di dalamnya, tetapi memberikan ruang untuk memahami emosi sebelum perlahan mengelolanya.
Proses untuk kembali menyesuaikan diri setelah hubungan berakhir juga tidak selalu sama bagi setiap orang. Penelitian mengenai penyesuaian setelah putus hubungan menunjukkan bahwa proses tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi hubungan, waktu sejak perpisahan, dan dukungan sosial yang dimiliki. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada waktu yang sama bagi setiap orang untuk merasa kembali baik setelah perpisahan.
2. Jangan Memaksa Diri untuk Segera Melupakan
Keinginan untuk segera melupakan seseorang terkadang justru membuat pikiran semakin sering kembali kepadanya. Alih-alih memaksa diri untuk tidak mengingat, cobalah menyadari ketika kenangan tersebut muncul dan kemudian mengarahkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Tujuannya bukan menghapus ingatan, tetapi mengurangi seberapa besar ingatan tersebut memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Jika pikiran tentang hubungan yang berakhir juga disertai kecemasan atau pikiran yang terus berulang, kamu bisa membaca artikel tentang cara mengatasi kecemasan berlebihan untuk memahami cara mengelolanya.
3. Batasi Kontak dan Paparan di Media Sosial
Terus melihat unggahan, membaca pesan lama, atau mencari tahu kabar seseorang dapat membuat perhatian kembali tertuju pada hubungan yang telah berakhir.
Jika hal tersebut membuat proses move on semakin sulit, pertimbangkan untuk membatasi kontak atau menggunakan fitur mute dan unfollow untuk sementara. Memberikan jarak dapat membantu menciptakan ruang untuk memulihkan diri secara emosional.
Hal ini juga didukung oleh penelitian mengenai penggunaan media sosial setelah putus hubungan menemukan bahwa mengamati mantan pasangan di media sosial berkaitan dengan tingkat distress akibat putus hubungan, emosi negatif, dan kecemburuan yang lebih tinggi. Studi tersebut melibatkan empat penelitian dengan total 762 partisipan dan menemukan bahwa pengamatan terhadap mantan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, dapat berkaitan dengan proses pemulihan yang lebih buruk.
4. Hindari Terus-Menerus Mengulang Kenangan
Mengingat masa lalu sesekali merupakan hal yang normal. Namun, terus memutar ulang percakapan, mencari kesalahan, atau membayangkan bagaimana jika hubungan tersebut masih berlanjut dapat membuat pikiran tetap terikat.
Cobalah membedakan antara merefleksikan pengalaman dan terus-menerus terjebak di dalamnya.
Ketika mulai menyadari bahwa pikiran kembali berputar pada kejadian yang sama, arahkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan. Dengan begitu, masa lalu dapat menjadi pengalaman untuk dipahami, bukan sesuatu yang terus menentukan kehidupan saat ini.
5. Lihat Hubungan Secara Lebih Realistis
Saat merasa kehilangan, seseorang cenderung lebih mudah mengingat momen yang menyenangkan dan melupakan masalah yang pernah terjadi. Hal ini dapat membuat hubungan terlihat lebih sempurna daripada kenyataannya.
Cobalah melihat hubungan secara lebih utuh, termasuk hal-hal yang tidak berjalan baik, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan alasan hubungan tersebut berakhir.
Tujuannya bukan untuk membenci orang tersebut, tetapi membantu melihat hubungan secara lebih realistis sehingga rasa kehilangan tidak hanya didasarkan pada kenangan yang menyenangkan.
6. Kembali Fokus pada Kehidupan Sendiri
Setelah hubungan berakhir, sebagian orang dapat merasa kehilangan rutinitas, tujuan, atau bahkan bingung dengan dirinya sendiri karena sebelumnya banyak aktivitas dilakukan bersama pasangan. Karena itu, salah satu langkah penting dalam proses move on adalah mulai membangun kembali kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.
Kamu bisa mulai dari hal sederhana, seperti kembali melakukan hobi yang sempat ditinggalkan, menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga, mencoba aktivitas baru, atau menetapkan tujuan pribadi dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Langkah ini bukan sekadar mengisi waktu agar tidak memikirkan mantan. Membangun kembali kehidupan dan mengenali diri di luar hubungan juga dapat menjadi bagian dari proses penyesuaian.
Penelitian mengenai pemulihan konsep diri setelah putus hubungan menunjukkan bahwa kesulitan dalam membangun kembali konsep diri berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih buruk setelah perpisahan.
7. Ceritakan Perasaan kepada Orang yang Dipercaya
Memendam semua perasaan sendirian dapat membuat proses menghadapi kehilangan terasa lebih berat. Berbicara dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi dan mendapatkan sudut pandang lain.
Pilih orang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi atau memaksa untuk segera melupakan.
Jika perasaan setelah putus hubungan justru membuat kamu terus mengalami stres atau sulit menjalani aktivitas sehari-hari, berbicara dengan psikolog juga dapat menjadi pilihan.
8. Tetap Menjaga Rutinitas Sehari-hari
Perasaan sedih setelah kehilangan seseorang dapat memengaruhi pola tidur, nafsu makan, aktivitas, hingga konsentrasi. Karena itu, tetap menjaga rutinitas sederhana dapat membantu memberikan rasa stabil selama proses penyesuaian.
Usahakan tetap tidur cukup, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, dan menjalankan kegiatan sehari-hari semampunya.
Tidak perlu langsung membuat perubahan besar. Menjaga rutinitas sederhana secara konsisten sudah dapat menjadi langkah untuk kembali membangun keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
9. Berikan Waktu untuk Proses Move On
Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk berhenti merasa terikat dengan seseorang. Lamanya hubungan, kondisi ketika hubungan berakhir, keterikatan emosional, dan dukungan sosial dapat memengaruhi proses penyesuaian.
Karena itu, cara melupakan seseorang dengan cepat bukan berarti harus langsung tidak memiliki perasaan.
Ukuran yang lebih realistis adalah ketika perlahan kamu mulai dapat menjalani aktivitas, menikmati kehidupan, dan mengambil keputusan tanpa terus bergantung pada kehadiran orang tersebut.
Adakah Cara Melupakan Seseorang dengan Cepat?
Banyak orang mencari cara melupakan seseorang dengan cepat karena ingin segera terbebas dari rasa sakit setelah hubungan berakhir. Namun, tidak ada metode psikologis yang dapat menjamin seseorang langsung melupakan orang lain dalam waktu tertentu.
Proses move on lebih tepat dipahami sebagai proses penyesuaian. Seiring waktu, seseorang dapat belajar menerima berakhirnya hubungan, mengurangi keterikatan emosional, dan kembali membangun kehidupannya.
Jadi, “cepat” bukan berarti tidak pernah lagi mengingat orang tersebut. Kamu mungkin masih mengingatnya, tetapi kenangan tersebut tidak lagi membuat kehidupan sehari-hari berhenti.
Apakah Harus Benar-Benar Melupakan Seseorang?
Melupakan seseorang tidak selalu berarti menghapus seluruh kenangan tentangnya. Kenangan dapat tetap ada sebagai bagian dari pengalaman hidup, sementara perasaan dan keterikatan terhadap orang tersebut perlahan berubah.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan tanpa terus-menerus mencari kehadiran, perhatian, atau validasi dari orang yang sudah tidak lagi menjadi bagian dari hubungan tersebut.
Dengan kata lain, tujuan move on bukan selalu lupa, tetapi mampu menerima bahwa hubungan tersebut sudah berakhir dan tetap melanjutkan kehidupan.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Psikolog?
Rasa sedih setelah kehilangan seseorang merupakan hal yang dapat terjadi. Namun, bantuan profesional dapat dipertimbangkan ketika perasaan tersebut terus mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, tidur, atau membuat seseorang kesulitan menjalani kehidupannya.
Psikoterapi juga dapat menjadi ruang untuk memahami pengalaman setelah putus hubungan dan membantu seseorang menghadapi konsekuensi emosional dari berakhirnya hubungan.
Dalam sebuah penelitian mengenai psikoterapi setelah putus hubungan terhadap 1.846 responden, sebagian besar responden menilai terapi tersebut cukup hingga sangat membantu dalam menghadapi dampak emosional dari perpisahan.
Jika ingin mendapatkan dukungan profesional, layanan konseling online dengan psikolog Bicarakan.id dapat menjadi salah satu pilihan untuk membicarakan kondisi yang sedang dihadapi.



