Blog Perkembangan Diri & Karir Apa Itu Stuck? Kenali 6 Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Stuck? Kenali 6 Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Stuck Kenali Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya

Pernah merasa hidup berjalan di tempat meskipun sebenarnya ingin berubah? Sudah mencoba melakukan sesuatu, tetapi tetap merasa tidak memiliki arah, motivasi, atau energi untuk melangkah?

Kondisi seperti ini sering disebut stuck atau ngestuck. Seseorang bisa merasa terjebak dalam pekerjaan, hubungan, pendidikan, maupun kehidupan secara umum.

Apa Itu Stuck?

Stuck adalah kondisi ketika seseorang merasa sulit bergerak maju atau membuat perubahan meskipun menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin atau perlu diubah.

Perasaan stuck bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang ingin berganti pekerjaan tetapi terus menunda, ingin memulai kebiasaan baru tetapi tidak kunjung memulai, atau merasa tidak bahagia dalam suatu hubungan tetapi bingung menentukan langkah berikutnya.

Stuck bukan diagnosis psikologis. Istilah ini lebih menggambarkan pengalaman subjektif ketika seseorang merasa terjebak, kehilangan arah, atau kesulitan mengambil langkah ke depan.

Apa Tanda-Tanda Seseorang Merasa Stuck?

Setiap orang dapat mengalami stuck dengan cara yang berbeda. Beberapa tanda yang umum antara lain:

  • Merasa hidup berjalan di tempat.
  • Sulit menentukan apa yang sebenarnya diinginkan.
  • Kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu.
  • Sering menunda keputusan atau pekerjaan.
  • Terus memikirkan perubahan tetapi tidak kunjung bertindak.
  • Merasa bosan dengan rutinitas yang dijalani.
  • Meragukan kemampuan diri sendiri.
  • Takut mengambil keputusan karena khawatir membuat kesalahan.
  • Merasa tidak puas dengan keadaan saat ini, tetapi juga tidak tahu harus mulai dari mana.

Terkadang, seseorang tetap menjalani rutinitas seperti biasa dari luar, tetapi di dalam dirinya merasa seperti tidak mengalami perkembangan.

Kenapa Seseorang Bisa Merasa Stuck?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua orang. Rasa stuck dapat muncul karena kombinasi kondisi psikologis, lingkungan, pengalaman, maupun situasi yang sedang dihadapi.

1. Terlalu Banyak Tekanan

Ketika terlalu banyak tuntutan datang dalam waktu bersamaan, energi mental dapat terkuras. Pekerjaan, masalah finansial, keluarga, hubungan, dan berbagai tanggung jawab dapat membuat seseorang merasa kewalahan.

Jika tekanan berlangsung terus-menerus, seseorang dapat merasa kelelahan secara mental dan kesulitan menentukan langkah yang perlu dilakukan. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa stuck, terutama ketika berbagai masalah terasa menumpuk dan sulit untuk diselesaikan satu per satu.

2. Overthinking

Terlalu banyak berpikir juga dapat membuat seseorang sulit bergerak.

Misalnya:

“Bagaimana kalau keputusan saya salah?”

“Bagaimana kalau saya gagal?”

“Nanti orang lain berpikir apa?”

Semakin banyak kemungkinan yang dipikirkan, semakin sulit menentukan langkah. Akhirnya, seseorang memilih tidak melakukan apa-apa.

3. Takut Gagal

Rasa takut gagal dapat membuat seseorang memilih untuk tetap berada di kondisi yang familiar meskipun sebenarnya tidak nyaman.

Daripada mencoba dan menghadapi kemungkinan gagal, seseorang mungkin merasa lebih aman untuk tidak mencoba sama sekali.

Dalam jangka panjang, pola ini dapat membuat perkembangan pribadi maupun karier terasa berhenti.

4. Perfeksionisme

Pada sebagian orang, tuntutan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dapat membuat proses memulai terasa lebih sulit.

Contohnya, seseorang ingin membuat portofolio baru. Namun, karena merasa portofolionya harus sempurna, ia terus mencari referensi, memperbaiki detail, dan menunggu waktu yang tepat sampai akhirnya tidak pernah benar-benar memulainya.

Perfeksionisme seperti ini dapat berkaitan dengan penundaan dan rasa takut melakukan kesalahan.

5. Kehilangan Arah

Ada kalanya seseorang merasa stuck bukan karena tidak mampu melakukan sesuatu, tetapi karena tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai.

Misalnya, seseorang memiliki pekerjaan yang stabil tetapi mulai bertanya:

“Sebenarnya saya ingin hidup seperti apa?”

Ketika tujuan tidak lagi terasa jelas, aktivitas sehari-hari dapat kehilangan makna.

6. Terlalu Banyak Membandingkan Diri

Melihat pencapaian orang lain, terutama melalui media sosial, dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Teman sudah memiliki karier yang bagus, menikah, membeli rumah, atau memulai bisnis, sementara diri sendiri merasa masih berada di tempat yang sama.

Padahal, membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain dapat membuat seseorang semakin sulit melihat perkembangan dirinya sendiri.

Apakah Stuck Berarti Malas?

Tidak selalu.

Merasa stuck sering kali disalahartikan sebagai kemalasan karena seseorang terlihat tidak melakukan apa-apa. Padahal, di baliknya mungkin terdapat rasa takut, kebingungan, kelelahan, atau terlalu banyak pikiran.

Orang yang merasa stuck bahkan bisa sangat ingin berubah, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Karena itu, daripada bertanya: “Kenapa saya malas?”

Cobalah bertanya: “Apa yang membuat saya sulit bergerak?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan hambatan yang sebenarnya.

Apakah Stuck Sama dengan Burnout

Source: Unsplash

Apakah Stuck Sama dengan Burnout?

Tidak sama. Stuck lebih menggambarkan perasaan seperti terjebak atau kesulitan bergerak maju dalam suatu aspek kehidupan. Sementara burnout merupakan kondisi yang berkaitan dengan stres kronis yang tidak berhasil dikelola dalam konteks pekerjaan.

Namun, keduanya dapat saling berkaitan. Seseorang yang mengalami burnout dapat kehilangan energi dan motivasi sehingga merasa stuck. Sebaliknya, merasa terus-menerus tidak berkembang juga dapat menimbulkan stres dan kelelahan emosional.

Jika rasa lelah, kehilangan motivasi, dan tekanan terutama berkaitan dengan pekerjaan, kamu dapat mengenali lebih jauh tanda-tanda burnout dan cara mengatasinya.

Bagaimana Cara Keluar dari Kondisi Stuck?

Merasa stuck tidak selalu berarti harus melakukan perubahan besar. Justru, langkah kecil dapat menjadi titik awal untuk kembali bergerak.

1. Identifikasi Apa yang Membuat Stuck

Coba tanyakan pada diri sendiri:

  • Apa yang sebenarnya membuat saya tidak bergerak?
  • Apakah saya takut gagal?
  • Apakah saya terlalu lelah?
  • Apakah saya tidak tahu apa yang saya inginkan?
  • Apakah saya terlalu memikirkan pendapat orang lain?

Mengetahui hambatan adalah langkah pertama sebelum mencari solusinya.

2. Jangan Menunggu Motivasi Datang

Sering kali kita berpikir harus merasa termotivasi terlebih dahulu sebelum mulai bertindak.

Padahal, tindakan kecil justru dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri dan momentum.

Daripada membuat target: “Saya harus mengubah hidup saya.”

Mulailah dengan: “Hari ini saya akan melakukan satu hal yang bisa membuat keadaan sedikit lebih baik.”

3. Pecah Tujuan Menjadi Langkah Kecil

Tujuan yang terlalu besar dapat terasa menakutkan.

Jika ingin berganti karier, misalnya, tidak harus langsung mengundurkan diri dari pekerjaan. Langkah pertama bisa berupa memperbarui CV, mencari informasi mengenai bidang yang diminati, atau mempelajari satu keterampilan baru.

Dengan memecah tujuan menjadi langkah kecil, perubahan terasa lebih realistis.

4. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Perjalanan setiap orang berbeda.

Alih-alih membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, coba lihat perkembangan diri sendiri:

“Apa yang sudah saya lakukan dibandingkan enam bulan lalu?”

Perubahan kecil yang sebelumnya tidak terlihat mungkin ternyata sudah menunjukkan kemajuan.

5. Berikan Ruang untuk Beristirahat

Tidak semua kondisi stuck harus langsung dilawan dengan produktivitas.

Jika tubuh dan pikiran sedang kelelahan, beristirahat dapat menjadi bagian dari proses untuk kembali bergerak.

Istirahat bukan berarti menyerah. Yang penting adalah membedakan antara beristirahat untuk memulihkan diri dan terus menghindari sesuatu yang sebenarnya perlu dihadapi.

6. Bicarakan dengan Orang yang Dipercaya

Terkadang kita sulit melihat jalan keluar karena terlalu lama memikirkan masalah dari sudut pandang yang sama.

Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu mendapatkan perspektif baru.

Jika kamu merasa sulit menemukan jalan keluar sendiri, berbicara dengan psikolog juga dapat menjadi pilihan. Psikolog dapat membantu mengeksplorasi masalah, memahami pola yang menghambat, dan menentukan langkah yang lebih sesuai.

Temukan Jalan Keluar Bersama Psikolog

Jika merasa stuck terus berulang dan mulai menghambat aktivitas atau membuat sulit menentukan langkah, layanan psikolog online Bicarakan.id dapat membantu memahami apa yang menjadi hambatan dan menemukan langkah yang lebih sesuai.

Tag:
Share:

Siap untuk hidup lebih bahagia, tenang, dan percaya diri?

Jadwalkan sesi konsultasimu dengan psikolog terpercaya di Bicarakan.id