Teknik STOP adalah metode sederhana yang dapat digunakan untuk mengambil jeda ketika pikiran, emosi, atau situasi mulai terasa sulit dikendalikan. STOP merupakan singkatan dari Stop, Take a Breath, Observe, dan Proceed.
Apa Itu Teknik STOP?
Teknik STOP terdiri dari empat langkah:
1. Stop – Berhenti Sejenak
Berhenti sejenak dari aktivitas atau respons yang sedang dilakukan. Jangan langsung mengambil keputusan atau bereaksi ketika sedang dikuasai emosi.
Misalnya, ketika menerima pesan yang membuat kesal, beri diri sendiri waktu sebelum langsung membalasnya.
2. Take a Breath – Tarik Napas
Tarik napas secara perlahan dan embuskan dengan tenang. Fokuskan perhatian pada napas selama beberapa saat untuk membantu memberikan jeda sebelum merespons situasi.
3. Observe – Amati
Perhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri. Coba identifikasi:
- Apa yang sedang dipikirkan?
- Emosi apa yang muncul?
- Apa yang dirasakan tubuh?
- Apakah yang dipikirkan merupakan fakta atau hanya kekhawatiran?
Contohnya, muncul pikiran “Saya pasti gagal”. Coba amati bahwa kalimat tersebut merupakan sebuah pikiran, bukan fakta yang sudah pasti terjadi.
Jika pikiran yang muncul berupa kekhawatiran berlebihan dan terus berulang, penting untuk mengenali pemicunya. Pelajari juga cara mengatasi kecemasan berlebihan agar dapat memahami strategi lain yang bisa dilakukan.
4. Proceed – Lanjutkan
Setelah mengambil jeda dan mengamati kondisi diri, tentukan respons yang lebih tepat. Fokus pada hal yang dapat dilakukan saat ini daripada terus mengikuti pikiran yang membuat cemas.
Misalnya:
“Saya belum tahu hasilnya. Untuk sekarang, saya akan menyelesaikan bagian yang bisa saya kerjakan.”
Apa Hubungan Teknik STOP dengan Thought Stopping?
Thought stopping adalah teknik untuk menginterupsi pola pikiran yang mengganggu atau terus berulang. Sederhananya, ketika menyadari bahwa pikiran mulai berputar dalam pola yang tidak produktif, seseorang dapat menggunakan isyarat seperti “STOP” untuk mengambil jarak dari pikiran tersebut.
Contohnya:
“Bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau semuanya berjalan buruk?”
Ketika pikiran tersebut terus berulang, coba katakan dalam hati:
“STOP. Saya sedang terlalu jauh memikirkan sesuatu yang belum terjadi.”
Setelah itu, alihkan perhatian pada aktivitas atau hal yang sedang dilakukan.
Apakah Teknik STOP Sama dengan Thought Stopping?
Teknik STOP dan thought stopping merupakan dua teknik yang berbeda, meskipun keduanya dapat digunakan untuk membantu menghadapi stres dan pikiran yang mengganggu.
Teknik STOP berfokus pada mengambil jeda, mengamati kondisi diri, dan menentukan respons terhadap suatu situasi, sedangkan thought stopping lebih spesifik pada upaya menginterupsi atau menghentikan pola pikiran yang mengganggu.
Untuk memahami perbedaan keduanya dengan lebih jelas, berikut perbandingannya:
| Aspek | Teknik STOP | Thought Stopping |
| Fokus utama | Mengambil jeda dan mengatur respons terhadap situasi | Menginterupsi pikiran yang mengganggu atau berulang |
| Yang menjadi perhatian | Situasi, pikiran, emosi, dan respons | Pikiran yang muncul secara berulang atau mengganggu |
| Cara kerja | Berhenti sejenak, mengatur napas, mengamati kondisi diri, lalu menentukan respons | Mengenali pikiran yang mengganggu lalu melakukan interupsi terhadap alur pikiran tersebut |
| Tujuan | Membantu seseorang merespons situasi dengan lebih sadar dan tidak impulsif | Membantu memutus atau menginterupsi pola pikiran yang mengganggu |
| Cakupan | Lebih luas karena melibatkan proses mengamati diri dan menentukan tindakan | Lebih spesifik karena berfokus pada pola pikiran |

Source: Unsplash
Contoh Teknik STOP Saat Overthinking
Misalnya setelah melakukan presentasi, muncul pikiran:
“Tadi saya salah bicara. Mereka pasti menganggap saya tidak kompeten.”
Pikiran tersebut kemudian terus berulang.
Coba gunakan teknik STOP:
- Stop: Berhenti mengikuti pikiran tersebut.
- Take a Breath: Tarik dan embuskan napas secara perlahan.
- Observe: Sadari bahwa sedang muncul rasa cemas dan pikiran negatif. Belum ada bukti bahwa orang lain benar-benar menilai buruk.
- Proceed: Kembali pada aktivitas yang sedang dilakukan atau pikirkan hal yang dapat diperbaiki untuk presentasi berikutnya.
Dengan cara ini, teknik STOP bukan bertujuan menghilangkan pikiran, tetapi membantu menyadari pola pikiran yang sedang muncul dan kemudian memilih respons berikutnya.
Apakah Thought Stopping Bisa Menghilangkan Pikiran Negatif?
Tidak selalu. Pikiran yang mengganggu tidak dapat sepenuhnya dikendalikan hanya dengan mengatakan “jangan pikirkan”.
Karena itu, thought stopping sebaiknya tidak dipahami sebagai cara untuk menghapus pikiran negatif, tetapi sebagai cara untuk menyadari dan menginterupsi pola pikiran yang berulang sebelum mengarahkan perhatian kembali pada hal yang lebih konstruktif.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Psikolog?
Jika stres, kecemasan, atau overthinking terus berulang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami penyebabnya dan menemukan cara yang lebih sesuai untuk menghadapinya. Melalui konseling online dengan psikolog Bicarakan.id, kamu bisa mendapatkan dukungan profesional secara praktis dan nyaman.



